Tampilkan postingan dengan label Hello Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hello Jakarta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Maret 2016

Kegunaan Menghafal Qur'an dan Ilmu Diniyyah


Tinggal menghitung jari, kehadiran ujian mid semester semakin dekat. Ya, jadwal yang kami miliki di kampus LIPIA memang tak jauh berbeda dengan jadwal murid SMA, kami tak punya banyak kesamaan dengan jadwal di kampus lain. Lihat saja, kalau yang lainnya satu semester memakan waktu enam bulan, maka kami dengan ajaibnya hanya cukup menempuh empat bulan. Terlihat menyenangkan memang karena kesannya kami bisa cepat mendapat liburan, tapi hei, lihat saja betapa keras perjuangan kakak kelas kami dalam melahap kitab-kitab tebal yang aduhai, seharusnya mereka punya waktu lebih lama untuk mengolah dan lalu menelan kitab tersebut. Yang jelas, kalau bisa sadar dengan penuh kesadaran, kami sedang ditempa.

Yap, ijinkan aku menyampaikan sebuah kisah indah yang beberapa hari yang lalu dikisahkan oleh seorang guru kami yang sangat kami hormati. Seorang ustadzah yang lahir di Kerajaan Saudi Arabia, tapi kemudian menetap di Indonesia sejak saat sejatinya beliau duduk di bangku kelas dua Madrasah Tsanawiyyah, atau kelas dua SMA. Datang murni sama sekali tak memahami bahasa Indonesia, tapi sekarang beliau telah mampu berdialog dengan bahasa negara kita ini dengan lancar-walau sama sekali tak pernah memraktekkannya di ma'had karena selain bahasa arab, segala bahasa adalah terlarang-.

As what I mention on the title, ini adalah tentang apa gunanya kita menghafal.
...

Alkisah, di suatu waktu di suatu tempat yang entah tak disebutkan, ada seorang anak yang mengadu pada ayahnya tentang betapa susahnya ia dalam menghafal, yang dalam hal ini adalah menghafal alqur'an.

"Ayah, mengapa aku harus bersusah payah menghafal sedang tak ada satu pun yang kemudian melekat dalam kepalaku", ujar sang anak tersebut.

Sang ayah pun tak hendak menjawab banyak, beliau malah memerintahkan anaknya untuk mengambil sebuah keranjang bambu yang biasa dipakai untuk menyimpan arang hitam. Tanpa bertanya, sang anak pun mengambilnya.

"Wahai anakku, pergila engkau ke pantai, dan bawalah air laut kemari dengan keranjang tersebut", perintah sang ayah kemudian.

Dengan sedikit keheranan, bocah itu pun melangkahkan kakinya menuju pantai dan segera menciduk air pantai dengan keranjang yang ia bawa di atas punggungnya. Dengan langkah yang tenang, ia kembali ke rumah. 

Namun, seperti yang kita tahu bahwa keranjang yang terbuat dari bambu bukanlah suatu wadah yang rapat dan tak memiliki celah, justru sebaliknya, berbagai celah malah berjajar rapi menjadi sebuah pola. Dan dengan segera sang anak pun menyadari bahwa tak ada sedikit pun air tyang tersisa di dalam keranjangnya, ia pun kemudia kembali menuju pantai, mencoba memperbaiki kesalahannya.

Ia pun mempercepat langkahnya. Ia mengambil, dan lalu pulang. Namun, masih sama, tak banyak air yang tersisa. Ia pun menambah kecepatannya lagi, lagi, dan lagi.

Hingga entah putaran yang keberapa, sang ayah pun menghentikan langkah anaknya.

"Cukup anakku, cukup", ujarnya. "Sudahkah kau mengerti mengapa kita harus selalu berusaha menghafal al-qur'an maupun ilmu diniyah yang lainnya?"

Sang anak pun menggeleng, masih tak paham hubungan dari pertanyaannya di awal percakapan, perintah ayahanda, hingga kemudian pertanyaan beliau yang terakhir.

"Lihatlah keranjang yang awalnya hitam tadi, kini ia telah menjadi bersih tersebab air laut yang telah berusaha kau bawa. Ya, memang tak banyak yang berhasil kau bawa kemari, tapi sekali lagi lihatlah keranjang yang awalnya hitam tadi. Demikianlah hati kita, nah. Ia adalah bongkahan kecil dari tubuh kita yang mudah sekali terkotori dengan noda-noda kesalahan yang telah kita perbuat. Banyak sekali hal yang demikian mudahnya menodainya. Bagaimana kita membersihkannya, nak? Ya, dengan al-qur'an tersebut, dengan ilmu-ilmu diniyah", sang ayah menatap dalam mata anaknya. "Jadi, memang bukanlah jadi tujuan utama kita untuk mengahafal al-qur'an dengan cepat, dalam waktu sekian hari dan lalu sudah, selesai. Namun dibalik itu, kita amat sangat membutuhkannya untuk membersihkan kotoran di hati kita."

Sang anak terperangah, ia mulai memahami pembicaraan ayahnya.

"Jadi, jangan pernah lelah bergaul dengan al-qur'an, wahai anakku, jangan pernah bosan. Toh kalau kau merasa kesulitan dalam menghafalnya, maka mohonlah pada Allah agar Ia berkenan meluaskan hatimu untuk rela dimasuki oleh kalam-kalamNya. Bukankah Allah Sang Maha Pengatur segalanya?" lanjut sang ayah dengan senyum lebar.

Putranya pun ikut tersenyum, lalu menyalami dan mencium tangan ayahnya. Dan kemudian pamit untuk segera membersihkan diri dan kembali berduaan dengan al-qur'annya.
...

Entah kisah ini terjadi dimana, dan juga entah nyata ataupun tidak, yang jelas kita hanya perlu mengambil pelajaran darinya. Bahwa al-qur'an (dan ilmu dinniyyah) adalah suatu kebutuhan kita, adalah makanan hati kita, yang mana terlalu membahayakan bila tak dipenuhi. Layaknya kebutuhan pokok yang lainnya, kita bisa mati tanpanya, mati hati yang dapat menjerumuskan pada keburukan-keburukan yang na'udzubillah min dzalik.

Semoga Allah memudahkan kita semua menjadi salah satu dari ahli-keluarga- Allah dengan menjadi penjaga al-qru'an. Allahu musta'an.

Jakarta, 9 Maret 2016
04:27pm

Rabu, 16 Desember 2015

Secuil Cerita UAS LIPIA~

Siapa sangka, ujian semester yang beberapa hari yang lalu 'dinanti' kehadirannya dengan penuh kecemasan, kini tinggal menatap ekornya. UAS tinggal sehari, dengan madah yang tak perlu membuka kitab ini itu, khat.

Siapa sangka, cemas dan takut yang kemarin sempat merundungi langit-langit pikiran kami, perlahan sirna diterpa angin waktu.

Dan sejauh ini, semua berjalan lancar, insyaallah.

Baik, tak ingin berbasa-basi terlalu panjang, di sini aku hanya ingin menceritakan sedikit gambaran bagaimana kami menjalani ujian. Ujian pertama kali di tempat yang amat luar biasa. I've found something anti-mainstream.
.

Masa ujian memang tak pernah lepas dari ketegangan, tapi apakah ketegangan itu akan bertahan lama bila tiap kali hendak memasuki ruang ujian, beliau para pengawas mengumbarkan senyum yang menenangkan? Hei, bahkan beliau yang berada di jabatan (hampir) tertinggi di satuan kami, serta beliau yang seringkali terkesan galak-padahal sejatinya amat menyenangkan- juga berada di lorong menuju ruang ujian dan ikut-ikut mengumbar senyuman? Aish, rontoklah semua ketegangan yang semula menemani jiwa.

Diawali dengan senyuman, dilanjutkan dengan sapa dan wajah yang berbisik, "Kami percaya pada kalian, nak. Dan kami pun telah mendo'akan kalian. Semoga kemudahan senantiasa mengiringi tarian pena kalian di atas lembar ujian,"

Ditemani dengan tatapan saling menyemangati dengan berbagai ungkapan mendukung dari kawan, "ma'annajah", "bittaufiq yaa,", "sahhalallahu umurana,", hilanglah awan gelap kecemasan.

Yap, baru kali ini kutemukan suasana ujian yang mana para pengawas sudah jauh siap lebih awal, dan lalu dengan tegap berdiri di depan pintu tiap ruangan, giving a little welcoming party by smilling.

Selesai. Ma'had ini memang setetes surga di kota yang penuh hingar-bingar kesenangan dunia. Dipenuhi dengan malaikat berupa guru-guru yang bersahaja. Pada ilmu yang disampaikan aku terpana, dan pada akhlaq dan kata yang dituturkan aku terpesona. Ditambah dengan kawan-kawan hebat yang senantiasa mengingatkan, masyaallah, semoga Allah senantiasa menjaga derap langkah hambaNya yang mencoba saling mewariskan warisan para nabi ini, para pejuang ilmu.

Jakarta, 16 Desember 2015
:yang sepertinya akan merindukan suasana belajar-mau libur sebulan-

Sabtu, 21 November 2015

Rumah Tanpa Jendela

Masih lekat memori itu. Balutan perasaan yang melingkupi diri saat pertama kali tiba di ibu kota. Ya, euforia sejatinya, karena hari itu aku masih ditemani orang-orang yang amat dicintai, seluruh anggota keluarga genap menemani, walau sejatinya ada banyak tanggungan yang mereka miliki, tapi tak tanggung-tanggung, semua dilepaskan demi mengantar anak paling kecil dari keluarga ini. Ya, mengantarkanku.

Rumah itu tampak biasa saja. Terlihat mungil bahkan. Bagaimana tidak, rumah-rumah yang disekitarnya hampir semua berpagar tinggi dengan anjing yang siap menyalak tiap kali ada orang asing yang iseng mengganggunya. Sedang rumah ini, terlihat malu-malu.

Tak ada yang spesial, baik tampak luarnya, maupun tampak dalam yang beberapa menit kemudian kuketahui dari pijakanku ke sana. Mushola yang dipenuhi buku-buku di atas raknya, ruang tengah yang dipenuhi dengan ranjang, dapur yang berada tepat di depan kamar lantai dua; baiklah, kesan pertamanya tidaklah benar-benar apik di mataku.

Hari berganti hari. Hampir dua minggu aku masih saja menangis. Ya, bulan September itu setengahnya kuhabiskan dengan mengeluhkan rumah yang jadi tempat tinggalku di kota perantauan ini. Bukan karena fasilitasnya kurang di sana-sini, bukan. Namun, ketiadaan jendela dan hujanan kenangan lama-lah yang menjadi faktor utamanya. Secara psikis, aku belum benar-benar siap tuk ke Jakarta.

Bagaimana tidak? Aku dipanggil mendadak tuk hadir di sana esok harinya, sedang sebelumnya sudah berminggu-minggu aku menata diri, membuat berbagai planning 'kalau tidak keterima di LIPIA', dan begitulah, planning itu seakan menghapuskan kemungkinan tuk bersekolah di sana. Dan mimpi itu hadir dengan tanpa tidur.

Tanpa jendela. Itulah sisi kurang dari rumah ini yang benar-benar aku garis bawahi. Bukan sungguhan, tapi akses menatap langsung langitlah yang tidak, ataupun kurang ada. Secara, aku masih tak betah, dan memutuskan tuk  membandingkan kehidupan Klaten dan kehidupan Jakarta yang memang sangat berbeda.

Yap, bagiku yang memang mencintai langit, hal sekecil itu dapat menjadi masalah besar buatku.
.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai belajar, belajar tuk menerima. Ya, segala sesuatu memang akan sangat berat pada awalnya, kan? Begitupula aku. Setelah berulangkali selftalking dijalankan, dan atas ijinNya, alhamdulillah banyak hal baik yang bisa terlihat kembali. Jakarta memang tak seindah Klaten, tapi ia masih tetap memiliki keindahan.

Dan di rumah tanpa jendela ini, aku pun mulai bisa menerima segalanya, dengan senyum tulus yang dulu sempat menghilang beberapa saat. Belajar tuk berorganisasi lewat LDK yang masih terbilang muda, berkreasi bebas tiap senin saat jadwal masak, mendengarkan obrolan kakak kelas saat menelpon keluarganya, bahasa mereka amat beragam, dan yang pasti belajar hidup bersama dengan orang-orang yang berlatar belakang berbeda; Padang, Aceh, Makassar, dan yang lainnya. Dan atas keberagaman itu, terjadilah berbagai kekonyolan yang dapat membuat diri tersenyum.

Entah akan berapa lama tinggal di Rumah Tanpa Jendela ini, yang jelas, semoga selama berada di sini bisa mengambil kemanfaatan sebanyaknya, pun memberi kemanfaatan yang sebanyaknya pula. :))

Selasa, 13 Oktober 2015

Guru~


Aku punya mimpi, kawan. Besar, iya, teramat besar bagiku, walau mungkin menurutmu hanya sepele saja. Kau tahu apa itu? Mungkin akan lebih mudah bagimu tuk mencerna mimpiku dengan satu kata; guru.

Ya, ‘hanya’ menjadi guru, itulah mimpi besarku. Namun sudah kukatakan bukan, bahwa kata itulah yang akan membuatmu paham, tapi bagiku itu adalah hal yang amat tak mudah.
.

Guru, bukan sembaranglah profesi ini. Dan mungkin lebih elok bagiku untuk menyebutnya mu'alimmah, atau pun murobbiyah; pendidik. Kenapa ku bilang ia tak sembarangan? Karena percaya atau tidak, profesi manusia yang lain pun sejatinya amat sangat dipengaruhi oleh peran seorang guru.
.

Guru itu tak hanya mereka yang menggunakan seragam resmi lalu menenteng buku cetak-atau mungkin untuk jaman sekarang sebuah laptop-, masuki kelas2 formal sekolah-sekolah; memulai menyampaikan 'ilmu'nya semenjak bel pagi berbunyi, dan lalu bergegas pulang saat bel pertanda jam pelajaran telah usai di siang hari berbunyi. Bukan hanya mereka. Setiap kita dapat menjadi guru, dimana pun dan kapanpun (sejatinya).

But, it won’t be as easy as I said. Menjadi seorang guru itu bergantung dengan 'apa yang kita miliki’. Semakin banyak kita memiliki semakin banyak kita bisa memberi. Ya, bagiku seorang guru adalah mereka yang telah memberi, dan bertekad untuk bisa selalu memberi.

“Tapi, aku hanya mahasiswa perantauan yang tak punya apa-apa. Duit saja masih dikirim dari orang tua, terus apa yang harus aku berikan untuk orang lain? Nggak mungkin kan kita habiskan apa yang orang tua berikan? Nggak pantes lah,” Ya, mungkin this though ever annoyed and sometimes it always try to stop my dreams. Hei, urusan memberi itu tak selalu berhubungan dengan harta. Kalau memang mau bicara urusan harta; coba deh buka mata lebar-lebar, sejatinya kita nggak punya apa-apa. Sekaya apa pun kita, sejatinya semua adalah milikNya.

“Jadi?”
Menjadi guru adalah masalah memberi, memberi kemanfaatan pada yang lainnya. Dan untukku yang sekarang masih belum bisa memberi kemanfaatan besar dari pintu harta, maka jalan memberi lewat pintu pikiran, pengetahuan dan pemahaman lah yang aku pilih.

Hei, bukankah semua orang bisa melaksanakan hal ini? Ya, memang bisa. Bahkan mereka yang miskin papa bisa menjadi seorang guru bagi yang lainnya saat ia berkenan memberi pemahaman pada yang lain, tentang kesyukuran mungkin.

Bukan kah ini mudah sebenarnya? Ya. Namun, ada rumusan 'semakin banyak memiliki, semakin banyak memberi’ juga memberikan 'paksaan’ bagi diri ini tuk selalu berusaha. Berusaha sekeras mungkin untuk sebanyak-banyaknya mencari dan memiliki.
.

Dan untuk cita-cita 'guru'ku; I’ve to struggle hard on my study.
.

Mencari dan memiliki ilmu diniyaah lewat bangku kuliah,
mencari dan memiliki ilmu kehidupan lewat jalan-jalan menuju bangku kuliah, ya, jalan yang tiap hari kulalui dengan berbagai pemandangan, percakapan, dan segala tingkah laku makhlukNya di sekitarku. Ya, semoga bisa mengambil faedah dari itu semua, dan menjadi guru yang dapat membagikannya.
.

Allahul musta'an~

Senin, 28 September 2015

Selamat Datang, Hujan~


Seperti biasa, mendung menyambangi beberapa kota di Indonesia, atau lebih tepatnya beberapa kota dimana teman-temanku berada; ini sebuah fakta yang tak perlu ditelisik secara ilmiyah. :3

Namun, awan yang biasanya hanya menggoda itu kali ini berbaik hati untuk menjatuhkan bulir-bulir air yang selama ini dipamerkan dengan permainan abu-abu langitnya. Ya, hari ini Jakarta Selatan diguyur hujan.
.
.

Petrikor. Aroma hujan di tanah gersang. That’s what I smell, sist!

Ya, aroma tanah seusai turunnya hujan itu amat menyengat sebelum sholat maghrib tadi. Aku tersenyum, ada euforia dalam hati, kalau kau tahu. Bukan apa- apa, tapi walaupun saat itu hujan belum benar-benar menampakkan dirinya, aku percaya; hujan kan benar-benar turun.

Sholat sunnah qabliyah kutunaikan, dan saat itulah aroma itu kembali menyeruak, bahkan lebih menyengat dari sebelumnya. Dan kemudian disusul dengan jatuhnya rinai-rinai yang membahagiakan, butiran air yang malaikat bergantung di tiap-tiapnya.

Dan genaplah senyumku senja itu.

Satu; kesyukuran atas hadirnya kembali sang hujan ke permukaan bumi, mebasahi tiap-tiap jengkal bagian yang sudah berteriak kehausan. Dua; aku percaya inilah rahmat Allah yang telah Ia turunkan sebagai jawaban atas do'a-do'a hambaNya. Dan tiga; aku percaya banyak senyum-senyum yang terkembang atas hadirnya buah dari awan itu-dan aku pun membayangkan senyum para pluviophille yang bakal terkembang lebar-.

Siapapun dan bagaimanapun, mari bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah karuniakan.
.

Jakarta, 280915.08:24pm.

Sabtu, 19 September 2015

Notes from Jakarta


Banyak hal yang kusaksikan dari perjalanan ini. Ya, dengan ular besi ini.
.
Jakarta, ibukota dari negri tercinta kita. Kota yang hampir selalu menjadi pilihan kaum desa untuk merantau, menjadikannya salah satu pilihan buat menggantungkan kehidupannya. Jangan tanya sudah berapa banyak umat manusia nonJakarta yang tinggal di sana; banyak sekali. (Silakan buka di internet untuk angka spesifiknya)
Oh ya, sedikit cerita; bahasa jawa sudah tidak asing ditemukan dan didengarkan di kota ini.
.
Tak sedang ingin banyak berbicara tentang Jakarta, karena semua juga tahu bahwa kota ini adalah kota yang sibuk. No time for being free, Jakarta nggak pernah lengang, kecuali kalau hari lebaran.

Pagi, siang, sore, bahkan malam; klakson kendaraan nggak akan berhenti memaikan nada yang ia punya, berduet dengan asap dan padatnya jalan; sungguh cukup untuk membuat hati yang melihatnya merasa lelah dan resah-bagi siapapun yang peka-. Ya, walau ini memang kesan pertama, karena lama-lama kita pun akan mulai terbiasa dengan keadaan yang sejatinya menjemukan ini. .__.

Oke, kita semua tahu Jakarta dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi yang menjulang; apartemen mewah kelas kakap atau bandeng lah; kantor-kantor berskala desa, kecamatan, nasional hingga internasional-lah; pun tempat-tempat rekreasi yang ya kreatif sekali para arsitek mencetaknya. Dan semua itu tidak ada yang murah. (Baca kalimat terakhir dengan nada datar dan membaca tanda titik dengan membunyikan kata 'titik').

Namun, nggak afdhol kalau kita hanya melihat Kota Metropolitan itu dari satu sudut pandang. Masih banyak wajah Jakarta yang ya sejatinya kita sendiri juga tahu; kehidupannya yang kumuh dan lusuh.

Rumah-rumah bertebaran tak terkira di sepanjang sungai, rel kereta apai, kolong jembatan dan di mana pun lah biasanya tak dijumpai rumah mungkin kita bisa menyaksikannya. Dan ya, di situlah mereka yang tak kuasa hidup dengan segala hal yang berbau mahal hidup dan menghidupi keluarganya. Dan satu hal yang lebih memiriskan hati adalah; semua itu ada dan hidup secara 'berdampingan'.

Bukankah menjadi pemandangan yang tak elok...

Sedikit cerita. Setiap hari kaki yang Allah pinjamkan ini aku gunakan untuk berjalan menuju kampus guna menimba ilmu. Tak lama memang, kurang lebih lima belas menit. Dan pemandangan yang kusaksikan setiap hari adalah perpaduan antara kemapanan dan kealpaan.

Pertama-tama keluar dari perumahan yang ya, bisa dibilang sederhana; bukan kawasan elit lah. Lanjut menuju jalan raya yang padatnya subhanallah nggak terkira, berjalan lagi menyusuri jalan dan kemudian masuk ke kawasan taman yang ada di daerah ini. Hijau, rapi, bersih; iya banget. Namun jalan sedikit lagi; ada sungai yang mengalir di bagian akhirnya. Jangan tanya sungainya bagaimana; jauh dari kriteria sungai- sungai cantik yang ada di televisi, apalagi dengan sungai yang di surga. Hitam pekat, berisi(sampah) dan beraroma(sampah pula). Jalan sedikit lagi; aku sudah masuki kawasan padat manusia dengan lahan yang sempit. Mau tak mau warga yang tinggal di situ pun harus meninggikan rumahnya dan memperkecil jalanan umumnya(jangan membayangkan sesuatu yang muluk-muluk). Gelap, itu kesan yang kuterima; cahaya matahari yak sempurna menyentuh tanah daerah itu. Kalau boleh menyebutkan; merekalah kaum marginal.

Kembali ke perjalananku; sedikit lagi aku akan sampai ke seberang kampus. Dan sebelum mencapai itulah sebuah mall yang mewah berdiri dengan gagahnya di sisi jalan tempatku menyeberang. Lupakan kaum marginal tadi; pemandangan yang terhampar adalah kesibukan, kemewahan dari mereka yang berdasi dan bertaksi. :3

Haha, begitulah. Hitam dan putih hidup dalam satu lokasi, tanpa ada pembauran, pencampuran atau bahasa mudahnya pemerataan.

Jangan menyalahkan apa dan siapa pun; it will be useless. But, let's try to do something that will be some benefit to people arround us. Lakukan bakti sosial, sumbang ini itu; atau apapun lah yang sekiranya bermanfaat bagi mereka; walau mungkin hanya sekedar senyum dan sapa.

Jakarta oh Jakarta. Menarik sekali ya dirimu.
.
Salam mudik dari mahasiswa Jakarta yang sedang kembali ke kampungnya; Solo~
Purwokerto, 06.05 pm

Selasa, 15 September 2015

Rindu


Katanya Jakarta gerimis malam ini.
Namun, aku tak tahu yang pasti.
.
Saat kau merasakan ada ikatan tali kerinduan yang membelit hatimu, ingatlah kisah-kisah para pendahulu kita yang sudah mengalaminya. Nabi Ibrahim dan istrinya, Sarah, serta Nabi Ya'kub dengan putranya, Nabi Yusuf.

Bukankah kita bersama-sama tahu bahwa rasa cinta yang ada diantara mereka amatlah besar. Bagaimana Sarah, seorang istri yang akhirnya memberikan keturunan pertama untuk Nabi Ibrahim setelah penantian yang amat panjang; harus ditinggalkan di tempat yang tak ada jaminan makanan ataupun minuman. Kalau bukan karena ketaqwaan kepada Allah, pasti perpisahan yang amat berat itu tak akan dilaksanakan.

Pun pada kisah Nabi Ya'kub. Perpisahan tersebut bahkan terjadi tanpa diketahui pasangan bapak dan anak itu. Nabi Yusuf dibuang, dibawa oleh sekelompok musafir, dijual dan kemudian dibeli dan dibesarkan oleh keluarga Mesir, nun jauh dari kampung halamannya. Sedang ayahnya, hanya bisa terdiam di rumah, mendengarkan kisah buatan saudara-sausara Yusuf, dan kemudian menangis sepanjang ia memikirkan anak kesayangannya  itu.

Bukankah ini sebuah perpisahan yang amat tak menyenangkan? Entah berapa lama mereka akan berpisah, entah kapan lagi pertemuan akan terjadi kembali. Tak ada yang tahu. Dan mungkin dada Nabi Ya'kub lebih sesak daripada manusia jaman sekarang yang katanya sedang merindui yang dicinta-dengan tanpa alasan yang jelas-.

Sedih? Pasti. Bukankah mereka-mereka yang mulia ini juga manusia biasa seperti kita yang punya perasaan? Bukankah dikisahkan bahwa mata Nabi Ibrahim menjadi putih karena tangisannya? Namun, yang jadi pertanyaan kita; apakah lalu setiap saat mereka larut dalam kesedihan? Tidak, kawan.

Dan mereka pun meminta obat untuk rindu dan kesedihannya dengan lebih mendekatkan diri pada Rabb yang menguasai hati manusia.

"Dia (Ya'kub) menjawab, 'Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku'..." QS. Yusuf: 86
...

Membayangkan bagaimana perpisahan mereka; tak tahu lagi kapan akan bertemu, ah, bukankah kau lebih beruntung?

Jagalah hatimu, perkuat ikatanmu padaNya.
Dan yakinlah bahwa Allah pasti akan mengabulkan pintamu untuk menjaga mereka yang kau cintai dan rindukan.

Jakarta, 14 September 2015
10.20 pm


luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com