Tinggal menghitung jari, kehadiran ujian mid semester semakin dekat. Ya, jadwal yang kami miliki di kampus LIPIA memang tak jauh berbeda dengan jadwal murid SMA, kami tak punya banyak kesamaan dengan jadwal di kampus lain. Lihat saja, kalau yang lainnya satu semester memakan waktu enam bulan, maka kami dengan ajaibnya hanya cukup menempuh empat bulan. Terlihat menyenangkan memang karena kesannya kami bisa cepat mendapat liburan, tapi hei, lihat saja betapa keras perjuangan kakak kelas kami dalam melahap kitab-kitab tebal yang aduhai, seharusnya mereka punya waktu lebih lama untuk mengolah dan lalu menelan kitab tersebut. Yang jelas, kalau bisa sadar dengan penuh kesadaran, kami sedang ditempa.
...
Ia pun mempercepat langkahnya. Ia mengambil, dan lalu pulang. Namun, masih sama, tak banyak air yang tersisa. Ia pun menambah kecepatannya lagi, lagi, dan lagi.
Hingga entah putaran yang keberapa, sang ayah pun menghentikan langkah anaknya.
"Cukup anakku, cukup", ujarnya. "Sudahkah kau mengerti mengapa kita harus selalu berusaha menghafal al-qur'an maupun ilmu diniyah yang lainnya?"
Sang anak pun menggeleng, masih tak paham hubungan dari pertanyaannya di awal percakapan, perintah ayahanda, hingga kemudian pertanyaan beliau yang terakhir.
"Lihatlah keranjang yang awalnya hitam tadi, kini ia telah menjadi bersih tersebab air laut yang telah berusaha kau bawa. Ya, memang tak banyak yang berhasil kau bawa kemari, tapi sekali lagi lihatlah keranjang yang awalnya hitam tadi. Demikianlah hati kita, nah. Ia adalah bongkahan kecil dari tubuh kita yang mudah sekali terkotori dengan noda-noda kesalahan yang telah kita perbuat. Banyak sekali hal yang demikian mudahnya menodainya. Bagaimana kita membersihkannya, nak? Ya, dengan al-qur'an tersebut, dengan ilmu-ilmu diniyah", sang ayah menatap dalam mata anaknya. "Jadi, memang bukanlah jadi tujuan utama kita untuk mengahafal al-qur'an dengan cepat, dalam waktu sekian hari dan lalu sudah, selesai. Namun dibalik itu, kita amat sangat membutuhkannya untuk membersihkan kotoran di hati kita."
Sang anak terperangah, ia mulai memahami pembicaraan ayahnya.
"Jadi, jangan pernah lelah bergaul dengan al-qur'an, wahai anakku, jangan pernah bosan. Toh kalau kau merasa kesulitan dalam menghafalnya, maka mohonlah pada Allah agar Ia berkenan meluaskan hatimu untuk rela dimasuki oleh kalam-kalamNya. Bukankah Allah Sang Maha Pengatur segalanya?" lanjut sang ayah dengan senyum lebar.
Putranya pun ikut tersenyum, lalu menyalami dan mencium tangan ayahnya. Dan kemudian pamit untuk segera membersihkan diri dan kembali berduaan dengan al-qur'annya.
...
Semoga Allah memudahkan kita semua menjadi salah satu dari ahli-keluarga- Allah dengan menjadi penjaga al-qru'an. Allahu musta'an.
Jakarta, 9 Maret 2016
04:27pm



