Tampilkan postingan dengan label Ibnu Abbas' Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibnu Abbas' Stories. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Agustus 2015

Berjalan


Hari ini, semua mulai kembali berjalan. Berjalan seperti 'biasa'.

Ahh, semuanya sudah kembali pada rutinitasnya. Belajar, bersekolah, bekerja, bertemu kawan, bermain, dan lain sebagainya. Ya, roda kehidupan yang sekian waktu yang lalu telah terhenti kembali berputar, menyisakan jejak dalam tanah, meninggalkan jalanan yang telah ia tapaki.

Sedang aku masih di sini; entah menjadi apa. Entah jalanannya atau pun tumbuhan- tumbuhan yang ada di sisi jalan.

Kalau aku jalanan; maka aku yang ditinggalkan.
Kalau aku tumbuhan; maka aku hanyalah penonton yang menyaksikan.
...

Ada sedikit rasa sedih sebenarnya. Dengan kondisi masih mendekam dalam rumah yang penuh kenangan, sedang penghuninya telah banyak yang terbang; aku masih bisa melihat itu dan mereka. Itu; itu seragam- seragam yang dulunya pernah aku pakai juga, dan mereka; para pemakainya yang sedikit banyak mengingatkan pada kisah lalu kami.

Menyedihkan, memang. Namun, ah ya, harusnya aku mulai menjahit 'seragam- sergam' baruku yang esok akan aku pakai. Seragam yang akan menyertai berbagai agenda baru esok hari. Sebelum aku tersibukkan dengan rutinitas baruku, sebelum aku benar- benar harus menjadi pengembara yang meninggalkan tanah kelahirannya.
...

Ya Rabb, semoga selalu ada kesempatan untuk menyusun langkah- langkah besar, menjalaninya dan kemudian berdiri di puncak tujuan yang telah kami rencanakan.

Minggu, 05 Juli 2015

Napas Pagi


Entah mengapa, tapi tiba-tiba dada ini sesak adanya.  Sudah sekian jam aku terduduk di halaman sekolah, seperti biasa menyendiri; mencari keheningan dan ketenangan. Namun ada hal yang berbeda rasanya pagi ini. Aku berlari ke dalam kelas, menumpahkan butiran- butiran bening yang entah sebab apa ia ingin keluar.
...

Tak terhitung sudah berapa fajar yang kusaksikan kehadirannya. Dari parasnya yang malu- malu untuk keluar, hingga akhirnya ia kokoh menggantung di sana menjadi raja siang yang tak seorang pun sanggup menatapnya dengan mata kosong. Ya, aku tak tahu sudah berapa kali ku menyaksikan runititas terbitnya mentari di tiap pagi. 

Namun, mungkin baru kali ini, atau mungkin aku sudah lama melupakan esensi terbitnya fajar, sedikit terlupa makna yang terkandung di dalamnya. Bahwa tiap sang surya menyapa di pagi hari, maka berlalulah hari kemarin dengan segala kisah cerita yang ada. Bahwa telah menguap mimpi dan juta perasaan kalut yang menghantui malam sebelumnya. Dan bahwa sang surya itu menunjukkan pada kita semua semangat dan gairah pagi yang harusnya dibangun di tiap- tiap pagi yang ada. Segalanya butuh pembaruan.

Seperti layaknya segala hal yang terjadi di sekitar kita. Matahari tang terbit tiap pagi dari sisi timur, awan- awan yang tak pernah berhenti berarakan terbawa angin yang menghembus, burung- burung yang terbang kesana kemari mencari makan untuk dirinya hari itu, hei lihatlah ritme pagi yang tak pernah lelah berputar setiap saat. Lakukanlah seperti apa yang mereka lakukan, hidup dalam suatu irama, tapi dengan semangat yang tak ada habisnya. Yang lalu biarlah berlalu. Biarlah hari kemarin menjadi suatu kisah dengan berbagai pernak- pernik perasaan yang menghiasinya, karena harimu adalah hari ini. Songsong dengan juta kebahagiaan dan semangat untuk selalu maju dan bergerak secara dinamis. The show must go on!
...

Biarkan berbagai perasaanmu itu, tetap ijinkalah ia hidup di dalam dada, tapi jangan pernah biarkan ia merusak cita dan langkah menuju masa depanmu.

Tarik napasmu dalam- dalam, dan biarkan pikiran dan hatimu berjalan dengan ketenangan.
...

Tanah Ibnu Abbas, yang hening.
07.44

Jumat, 12 Juni 2015

Wisuda Kami

Sudah berlalu. 
Surakarta, 12 Juni, 2015

Jujur, rasanya sudah lama sekali hari dimana nama kami dipanggil satu persatu. Yak, itulah hari wisuda yang nyatanya baru terjadi tepat di hari kemarin, Kamis, 11 Juni 2015. Entah apa yang membuat hal ini terasa sudah berlalu begitu lama. 
...

Hari itu, pagi itu, kami mempersiapkan diri sebaik mungkin. Walau semalam, bisa dibilang istirahat kami tak cukup. Acara Lailatul Wada yang terselenggara malam itu cukup menyita waktu dan tenaga, yang walau bagaimana pun, amat berkesan buat kami; seluruh calon alumni Ibnu Abbas.

Pukul 02.00, lelah menata hati dan barang, aku pun memutuskan untuk tidur, yang lalu terbangun tepat setengah jam kemudian, :3, betapa menyenangkannya. Tak bertahan lama, kembali dalam pangkuan tidur tak lama juga kemudian, hingga datangnya sang shubuh, embangunkan mata- mata yang sejatinya masih lelah.

Namun, apalah daya, ingatan tentanga antrian panjang kamar mandi cukup buat memaksa diri tuk segera mengambil air wudhu, dan sholat.

Pukul 06.30, wajah- wajah calon wisudawati telah berjajar rapi di halaman sekolah, mengenakan pakain terbaiknya kala itu. Dominasi coklat buat santriwati kelas 12, dan dominasi merah-abu2 buat santriwati kelas 9. Bagaimana pun, semua wajah tampak sumringah, yang pada saat itu tak ada yang berpikir bahwa garis muka itu akan hilang oleh prosesi wisuda yang akan mereka ikuti.
...

Ya, senyum itu seketika berubah menjadi isak tangis dari beberapa kawanku, pun adik-adik kelas sesama wisudawati. Aku yang masih berkalung kamera dengan teganya mengambil sembarang foto mereka. Maafkan aku, kawan, karena hari itu aku tak ingin menangis, karena sejatinya masih ada rasa tak percaya dalam hati bahwa hari itu akan menjadi akhir kebersamaan kita di pondok tercinta.


Tangis- tangis itu pecah sesaat setelah acara pengambilan gambar usai salam penutupan prosesi wisuda diucapkan. Terlupa dengan rasa dag-dig-dug-nya akan maju ke panggung saat nama kami di panggil; terlupa dengan nasehat Ustadz Mu'in yang beliau sampaikan setulus hati hingga menitikkan air mata; terlupa dengan kebahagiaan kami saat Maharotun Nafi'ah, salah satu kawan kami maju menyampaikan sambutannya sebagai wisudawan terbaik; terlupa dengan kebahagiaan kami pula saat salah seorang wisudawan dibacakan atasnya sanad yang telah ia peroleh; dan berbagai kehagiaan yang lain, entah mengapa menguap seketika. Menghilang saat menyadari bahwa kami akan kembali ke pangkuan orang tua, mencicipi dunia baru yang lainya. Saat kesadaran itu tiba; air mata pun tak terbendung.


Satu persatu dari kami berpelukan, mengucapkan sebaris pesan untuk kawan tercintanya, yang kemudian disusul ucapan 'Selamat tinggal, semoga Allah berkenan mempertemukan kita kembali,"
Dan berakhirlah episode wisuda di Gedung Al-Mabrur, Klaten, sebelas Juni duaribu lima belas.
...

Mari berpikir sejenak. Tak ada perpisahan, kawan. Tak ada. Cerita tentang kita masih panjang, tapi hanya settingnya saja yang berubah. Kita masih bersama, masih dalam satu naungan langit, satu tanah pijakan, dan satu pegangan yang sama; islam. Hanya saja, jarak antara kita akan semakin berjauhan. Semoga Allah senantiasa menyatukan hati kita semua.
...

Begitulah,

Kamis, 23 April 2015

Masih Sama, kawan.

Tinggal menghitung mundur hari- hari ini. Hari- hari terakhir berstatus santri aktif PPTQ Ibnu Abbas. Namun, siapa peduli? Siapa pula yang berkenan menghitung seberapa lama lagi kami-santri kelas 12- masih punya hak tinggal di pondok tercinta? Bagaimana pun, kami kan selalu menjadi santri pondok ini, walau mungkin esok kan berembelkan 'alumni'.
...

Paradoks sebenarnya. Senang yang menyedihkan.
...

Juta syukur kupanjatkan pada-Nya, Dzat yang berkenan menggerakkan hati tuk memilih berhijrah dari suatu pondok di Kota Solo, yang kemudian membuat hati tertambat pula di pondok hijau ini, untuk sekian tahun lamanya.


Banyak kisah senang nan sedih, jelas. Ada tangis dan tawa, jelas. Ada konflik dan damai, jelas.
Hei, aku hidup di sana bersama kawan dan lawan!. Kawan yang kadang menjadi lawan, dan lawan yang kadang menjadi kawan. Bagaimana pun, mereka adalah makhluk ciptaan-Nya, manusia- manusia yang pasti mempunyai berbagai rasa, selalu berubah sesuai dengan keadaan dan keinginan.

Ada mendung dan cerah, jelas. Ada hujan, pun badai -dan sekali lagi-, jelas.
Hei, aku hidup di sana beriring dengan alam, di temani matahari dan bulan, bergantian menjaga keharmonisan waktu; pengantar hidup manusia.

Sejatinya, semua sama saja.

Aku yang di sini, kini, masih hidup bersama dengan orang lain, hamba- hamba yang Ia ciptakan.
Aku yang di sini, kini, masih di temani bulan pun matahari. Raja siang, dan dewi malam.
Aku yang di sini, kini, masih menapakkan kaki di atas tanah, masih dipayungi langit yang biru.
Hei, sejatinya tak  ada bedanya; antara di sini dan di sana.
...

Mengingatkan diri.

Tenanglah kawan, kau tidak akan berpisah. Ini hanya masalah ruang dan waktu yang semakin lebar.
Tenanglah kawan, kau masih bersama-Nya; Dzat yang berkenan untuk kau mintai segalanya, bahkan untuk urusan 'mendekatkan' yang 'terjauhkan'.
Tenanglah kawan. Ingatlah tujuanmu; ingin menjadi hamba-Nya yang memiliki kemanfaatan yang besar untuk ummat. Maka kuatkanlah dirimu untuk melakukan perjalanan menuntut ilmu; menimba ilmu-Nya, berharap tuk kokohkan barisan pasukan muslimin esok hari.
...

Bismillah.
...


Kartasura, 23 april 2015

Kamis, 17 Juli 2014

Huffazh SMAIT Ibnu Abbas


Alhamdulillahi bin'matihii tatimmusholihaat..

Hanya untaian rasa syukur lah yang dapat kami panjatkan kepada Sang Penguasa seluruh alam. Walau selama ini langkah kami tertatih, akhirnya garis finish pertama dalam maraton kebajikan telah kami raih. Ya, sepuluh dari dua puluh lima santriwati angkatan pertama SMAIT Ibnu Abbas telah mengkhatamkan setoran hafalan 30 juz. Allahu Akbar !!

Memang, bukan barusaja bagi sepuluh orang itu menyelesaikan hafalannya. Satu orang dari mereka, baru memulai hafalan qur'an saat duduk di kelas 7 dan selesai 30 juz di kelas 9, semester satu. Dan dia lah sosok kawan kami yang dipanggil dengan panggilan kehormatan, Ustadzah.

Satu yang lain, selesai pada penghujung Januari lalu, tepat pada tanggal 31, surat Al- Hadid pun tersetorkan. 

Satu yang lain lagi, selesai pada bulan Maret (?) dan telah menyelesaikan satu putaran muroja'ah 30 juz bulan Juli ini, walaupun baru selesai beberapa bulan lalu.

Dan tujuh sisanya, selesai menyetorkan hafalan Qur'annya pada bulan Juni-Juli ini, saat pondok kami, PPTQ Ibnu Abbas, menggelar program Kejar Lancar Tahfizh yang wajib diikuti oleh seluruh santri. Tiga dari mereka, tinggal menyelesaikan satu juz terakhirnya, dua dari mereka tinggal mengentaskan kurang lebih 3 juz terakhir dan dua dari mereka, mengejar lima juz terakhir. Alhamdulillah, walau pun KLT yang hanya diadakan dalam kurun waktu 20 hari, tapi target 1, 3, dan 5 juz dapat dituntaskan. Barakallah :))

Walaupun sudah ada sepuluh orang yang telah usai menyetorkan 30 juznya, tapi kami tak akan puas sampai di sini. Cita-cita kami: 30 (juz) untuk 25 (orang) ... Insyaallah.

Kami akan berusaha selalu, insyaallah, untuk mempertahankan apa yang telah kami dapat, dan berupaya untuk selalu meningkatkan kualitas diri. Kami mau kalah dengan para huffazh cilik di Indonesia, maupun huffazh dunia yang lain, Sahar Nakayama yang berusia 13 tahun dari Tokyo, Jepang , yang telah menghafal 26 juz, dan bertekad untuk menjadi Hafizh pertama Jepang di bulan Ramadhan ini*. Kami tak mau kalah!

Bismillah, Allah selalu menyertai kami, dan kami tahu, Ia akan mengikuti persangkaan hambaNya.
Kami bisa melakukan yang lebih lagi, Insyaallah.. :))
...

*http://www.youtube.com/watch?v=6hwn8XhCVQQ

Jumat, 25 April 2014

semua rasa...


Aku ingin berdamai dengan semuanya, semua orang.
Aku tak pernah ingin memelihara suatu permusuhan,
apalagi jiwa kebencian.
itu terlalu mengerikan, kawan.

Aku hanya ingin tetap selalu tersenyum.
Memandangi bulan dan bintang,
yang senantiasa bergantian menyapa,
dengan matahari...

Terang dan gelap,
yang berdampingan.

Berbaur dengan semua,
layaknya Rasul yang ikut memecah batu 
dalam penggalian parit Khandaq.
Layaknya Umar yang berkeliling,
memastikan rakyatnya tak kelaparan.

Aku ingin berbaur, menyatu,
dengan semuanya.
Mendukung, mendorong,
bahkan membantu mengurai,
ikatan yang berkelit.

Allahumma ashlih haalanaa..
Ya Rabb, damaikanlah hati- hati kami,
Ikatkanlah kami dalam suatu untaian indah,
menuju ridha-Mu,
dalam lingkaran ukhuwah.
dalam lingkaran ukhuwahh.

*alhubbu fillahi*

Kamis, 20 Februari 2014

about PPTQ Ibnu Abbas..

Kartasura, 20 Februari 2014
Hari ini aku sedang di rumah, mendapat ijin beberapa hari tinggal untuk pulang demi memulihkan badan yang beberapa hari yang lalu benar- benar tak fit. Sepertinya aku terkena maag, untuk pertama kalinya. Namun, entahlah. Yang jelas kini kondisiku sudah amat membaik, dan mungkin akan siap kembali berjuang di pondok tercinta esok hari...

Kawan, di sini aku hanya ingin bercerita sedikit tentang apa yang aku rasakan selama hidup di pondokku. PPTQ Ibnu Abbas Klaten. Apa itu PPTQ? Ia adalah kependekan dari Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an, dimana tujuan utama kami bersekolah di sini adalah untuk belajar plus menghafal alqur'an, 30 juz. Walau bukanlah tuntutan untuk menghafalkan kalamNya sebanyak itu, tapi di hati kami telah terpaku tujuan itu, tujuan yang mulia..

Apakah pondok kami begitu mewah hingga kami-utamanya aku- bisa benar- benar betah hidup di dalamnya? Haha, bila mewahnya diartikan dengan adanya berbagai fasilitas yang amat memadai, jangan salah... Pondok kami hanya pondok biasa, 'rumah' kami yang mewah dalam artian MEpet saWAH... Kami betah di dalamnya karena hati kami... Hati yang telah dilapangkan olehNya untuk menerima segala yang ada, mensyukuri segala kenikmatan yang telah diberikanNya di sini, hati yang dicukupkan olehNya... Kalau mau membandingkan dengan beberapa pondok lain yang lebih maju, kami jauh dari apa- apa, kawan. Namun itulah, lebih baik tak membanding- bandingkan daripada nantinya malah kurang bersyukur.. haha..

Aku benar- benar bersyukur bisa berada di tempat ini. Kurang lebih empat tahun-lah aku sudah di sini--aku masuk Ibnu Abbas kelas 7 semester 2, dan kini sedang menempuh kelas 11, masuk sem 2--, dan keputusanku dulu untuk pindah dari smp pertamaku dulu ke sini, insyaAllah tak akan pernah ku sesali. Aku bersyukur kawan, hatiku terpuaskan... Alhamdulillah bini'matihii tatimmu ash-sholihaat..

Sekali lagi, bukan masalah fasilitas yang ada, bukan masalah segala sesuatu yang sudah tersedia, karena jauh- jauh dari itu, bila kami ingin mendapatkan sesuatu, kami lah yang benar-benar harus berusaha untuk mencari dan mendapatkannya...

Beberapa adik kelas yang menduduki bangku kelas 9, yang sedang mencari referensi SMA lanjutan pernah bertanya padaku, "Ukhti-begitulah mereka memanggil kakak kelas-, emang sekolah di sini lagi enak ya? enaknya apaan?". Spontan saja kujawab, enak -entah apa yang aku pikirkan saat itu-. Karena secara logis, tidak menyenangkan. Bayangkan saja, kelas 10 kemarin saja, kami amat suram. Materi kimia tidak selesai di tahun itu, semester satu pun kami tidak mempelajari pelajaran diniyah secara mendalam-padahal kami membawa nama 'pondok'-, hanya jam bahasa arab yang diperbanyak, yang lalu jadwal direvisi di semester 2, dan semester dua pun berubah menjadi masa penggojlokan ngeri kami. Satu minggu full kami sekolah, senin sampai kamis sekolah biasa, sampai jam 2.10, jum'at sabtu sekolah hingga sebelum dzuhur, dilanjutkan mentoring dan extra setelah sholat, dan begitupula hari ahad, kami punya 'dauroh', mapel aqidah akhlaq dan kajian aqidah ayat-ayat qur'an yang diajar langsung oleh mudir kami... Itu baru urusan sekolah, belum urusan target hafalan, yang tiap-tiap kami punya target yang tinggi, lalu masalah organisasi- OSIA- di mana kami harus mengurus 'ummat' juga.. haha, benar-benar, bahkan untuk mengingat masa itu saja bisa ikut lelah...
"Kita sedang ditempa kawan, bertahanlah.," itu yang sering terlontar, untuk memotivasi Namun ada juga guyonan, " Sabar, besok- besok kita lulus pada berjenggot, dah pada jadi syaikhah-syaikhoh..," dan semua kan tersenyum. Kami percaya, esok semua tempaan ini kan amat berharga.



Oh ya, ini bukan happy endingnya. Masalah extra? Hahaha, jangan terlalu banyak mengharap bila ingin bersekolah di sini- maaf Ibbas, aku nggak bermaksud menjelek-jelekkanmu..-. Namun, inilah faktanya. Extra kami kelas 10 hanya ada Tea Kwon Do. Hanya itu, dan semua anak sma-yang hanya kami, karena kami angkatan pertama- memang hanya bisa ikut itu. Yang mau dan minat akan masuk tiap pertemuannya, yang setengah hati ya, kadang masuk kadang alpa, yang bener-bener nggak minat; masuk satu dua kali di awal pertemua, sisanya tidak usah ditanya; alpa. Dan extra ni dilaksanakan sekali seminggu, yaitu ba'da dzuhur hingga ashar, di hari jum'at. Oh ya, maaf, ada yang terlupa, ternyata masih ada extra wajib lain; PBB, yang dibimbing langsung oleh seorang polwan di setiap sabtu ba'da ashar-yang kami benar-benar dibuat layaknya barisan tentara- dan pramuka yang dilaksanakan di setiap selasa, pulang sekolah...HUAA,,,hahaha.. Benar- benar padat, kawan.

Itu baru masalah yang timbul akibat kami ber'sekolah'. Dan masalah yang ada karena kami tinggal di asrama, lebih 'lucu' dan bermacam- macam lagi... Kami pernah bermasalah dengan anak angkatan empat, angkatan enam, dan entah lainnya. Yang jelas, dengan dua angkatan ini sengketa kami benar- benar real, dan kemudian ada usaha perdamaian dengan mempertemukan kedua belah pihak, entah perwakilan maupun keseluruhan. Hahaha, masa lalu, kawan. Sekarang semua terlihat benar-benar lucu untuk dikenang, belum esok hari saat kami semua telah begitu dewasa, punya keluarga, dan mengenangnya... haha...

Masalah fasilitas? aduh, sudah kubilang jangan tanya- tanya tentang ini. Kami hanya punya sebuah halaman sekolah yang biasa kami pakai bermain, main apa lagi kalau bukan kasti, andalan anak akhwat sejak jaman dahulu kala... Ring basket kini ada di halam itu juga, yang baru dipasang belum lama sebelum aku menulis, anggap saja bulan januari 2014. Lapangan lain, kami tidak punya. Kalau mau main badminton, ya tinggal main saja, asal punya raket dan kok-kami tidak punya net-. begitupula lapangan lainnya, kami tak punya. Kalau misalnya akan ada lomba- lomba olah raga, biasanya kami menyewa sebuah sportcenter yang tidak jauh dari hunian kami ini.
Makan, alhamdulillah bisa 3x setiap hari. InsyaAllah pun gizi terpenuhi. Asal qona'ah, segalanya ni'mat. Bu dapur di sini keren, tak pernah pakai micin atau penyedap- penyedap pabrik, tapi saya akui makanan bu dapur, two tumbs up..haha..

Belum kisah kami yang sekarang menduduki kelas sebelas, bertambahlah amanahnya; seperti menjadi asisten muhafidzah; yang menyemakkan hafalan adik kelas setiap sore, dan yang lainnya...

Terlepas dari itu semua, aku-sekali lagi- bersyukur, karena disinilah berbagai kisah yang kini telah menjadi bagian hidupku tercetak. Banyak orang- orang hebat yang ku temui di sini, entah hanya sekilas, atau pun mereka- mereka yang kini masih ada di sekelilingku. Allah yang memberikan berbagai anugrah di tempat kecil ini, taman penghafal alqur'an...

Mungkin suatu saat nanti akan ku tuliskan betapa hebatnya guru- guruku yang pernah dan masih mengarku, tentang aneh dan uniknya kawan-kawan seperjuanganku, tentang adik- adik kelasku yang amat sangat spesial dan berwarna-warni, dan mungkin tentang sosok-sosok pekerja keras yang hidup di Ibbas.. Mungkin, suatu saat nanti, beserta kisah- kisah indah yang lain..

 Oh ya, as the closing...
Seorang pelaut ulung tak akan lahir di laut yang yang tenang bukan? Begitupula kami. Kami yakin, dengan berbagai tempaan dan 'pukulan' ini, esok hari, suatu saat nanti kami bisa mencapai puncak kami, merasakan manis dari sepahnya kini. Kami percaya, insyaAllah...

"wasykuruu lii adzkurkum, wadzkuruu lii walaa takfuruun.."
wallahu a'lam...

Rabu, 19 Februari 2014

bait buat kawan


Kau tahu, kawan
kadang ingin sekali ku tertawa, menertawakan diri ini,
lucu-bagiku-
Kawan, inilah aku.
dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ku punya,
aku memegang kisahku, aku memegang tinta penaku,
yang dengannya kan ku tulis, ku gambar,
jejak-jejak hidupku...
Inilah aku, kawan...
...
Aku bersyukur, 
berada di tempat ini,
bertemu orang-orang hebat,
yang mengajariku banyak hal,
memberiku makna hidup yang lebih dalam..
Aku ingin tersenyum, kawan,
Aku ingin menangis,
Aku amat bahagia...
...
Semua orang di sekitarku adalah guruku,
tak kenal tua muda,
mereka amat berarti bagiku,
bahkan sosok kecil itu,..
dalam,
dalam sekali menusukku, 
'menyuruhku' untuk membuka mata lebih lebar,
memancingku, memaksaku,
untuk bersikap lebih dewasa...
...
Aku tak mengerti,
sejatinya sosok itu membenci, 
atau sebaliknya...
Namun,
aku amat bersyukur padaNya,
diperkenalkan dan dipertemukan,
di atas jalan perjuangan ini..
Aku kagum padanya,
Aku belajar banyak darinya...
...
Kau kawan yang hebat, sobat,,
terimakasih..
...
Walau belum pernah cakap penuh terjalin,
Walau yang ada hanya kebingungan yang membiru,
tapi aku percaya,
ikatan yang ku rentang kan tetap ada,
entah hanya padaku, 
atau keduanya,
...
Namun,
sekali lagi ku ucap, kawan
Aku banyak belajar darimu...
...

Untuk saudariku fiillah,
PPTQ Ibnu Abbas Klaten, 
13 Februari 2014  13:41

****
Kawan, setiap kita memegang kisahnya masing- masing. Janganlah kau saling iri, percayalah pada dirimu...
Allahu ghayatunaa...
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com